Minggu, 26 Juni 2011

Museum Sangiran





MUSEUM SANGIRAN (2)

SEANDAINYA Von Koenigswald tahun 1934 tidak menginjakkan kakinya di Sangiran, maka situs manusia purba yang terletak di wilayah kabupaten Sragen dan Karanganyar tersebut mungkin tidak akan pernah dikenal. Sebab sejak kunjungan Koenigswald, nama Sangiran muncul dalam ranah ilmu pengetahuan sebagai situs penemuan alat batu.
Jauh sebelum Koenigswald datang, Eugene Dubois, penemu fosil manusia purba Trinil, sebenarnya pernah mendatangi Sangiran, tahun 1893. Sayang, ketika itu Dubois tak tertarik dengan Sangiran yang kering dan tandus. Dokter muda tersebut pun mengalihkan penelitiannya ke Trinil, hingga akhirnya di desa yang terletak di tepi Bengawan Solo di wilayah Madiun ini, Dubois menemukan fosil tulang paha dan tengkorak manusia purba. Kelak temuan ini dikenal dengan nama Pithecanthropus Erectus atau Si Manusia Berjalan Tegak.
Kembali ke Sangiran. Kawasan ini berada sekitar 17 kilometer arah utara Kota Solo, atau arah menuju Purwodadi. Luas kawasan ini sekitar 56 km2, mencakup Kecamatan Kalijambe, Gemolong, dan Plupuh di Sragen, serta Kecamatan Gondangrejo di Karanganyar.
Situs Sangiran berawal ketika Von Koenigswald menemukan peralatan batu purba tahun 1934. Penemuan tersebut kemudian disusul temuan-temuan berikutnya yang seperti tak berkesudahan. Dua tahun setelah temuan itu misalnya, seorang penduduk setempat menemukan rahang bawah fosil manusia purba di lapisan Pucangan Atas di Sangiran, menyusul fosil-fosil lain pada tahun-tahun berikutnya.
Kini penemuan fosil di situs Sangiran telah mencapai sekitar 60 individu manusia purba, tersebar pada lahan luas menempati wilayah Kabupaten Sragen di utara dan Kabupaten Karanganyar di selatan. Jumlah keseluruhan telah melebihi 50 persen dari seluruh temuan fosil manusia purba di dunia.
Secara stratigrafis, Sangiran merupakan situs manusia purba berdiri tegak terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa putus, sejak dua juta tahun hingga 200 ribu tahun yang lalu (Kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah).
Sekadar informasi, situs serupa hanya ada dalam hitungan jari di dunia. Di Asia terbatas di Cina, India, dan Indonesia. Di Eropa ditemukan di Jerman, Perancis, Rusia, dan baru-baru ini di Inggris. Benua Afrika lebih menonjol dengan kekunaan yang lebih tua, antara lain di Ethiopia, Kenya, dan Afrika Selatan. Indonesia bukan hanya memiliki Sangiran, tetapi juga situs lain di sepanjang aliran Bengawan Solo, seperti Sambungmacan, Trinil, Ngawi dan Ngandong. Selebihnya dijumpai di Kedungbrubus, Patiayam, dan Perning.
Situs Sangiran pada akhirnya menjadi lahan penelitian tak berkesudahan. Lebih dari 70 tahun sejak penemuan fosil pertamanya, situs ini seperti menawarkan misteri kehidupan purba yang tiada ujung.
Jejak Homo Erectus
Berdasarkan bukti-bukti per tanggalan, konon manusia purba Homo Erectus telah mendiami Sangiran sejak awal zaman Plestosen hingga akhir Plestosen Tengah (sekitar 1,8 juta tahun lalu hingga ratusan ribu tahun lalu). Menurut teori out of Africa, manusia purba Jawa ini berasal dari Afrika. Sejak 2,5 juta tahun lalu, mereka meninggalkan Afrika, menyebar ke berbagai benua (daratan). Sebagaian dari mereka menuju Eropa, ada pula yang ke China dan Indonesia setelah melewati India. Mereka diperkirakan memasuki Indonesia melalui jembatan darat yang terbentuk ketika air laut surut pada periode glasial.
Amat mengesankan, mereka hidup turun-temurun selama berjuta-juta tahun di Sangiran. Ketersediaan berbagai sumber daya lingkungan (hewan, tumbuhan) menjadi jawabnya. Asumsi ini tidak meragukan jika melihat keberadaan fosil-fosil hewan yang tersebar pada lapisan-lapisan tanah Sangiran.
Manusia purba ini diperkirakan mendiami Sangiran setelah air laut surut atau paling tidak saat Sangiran telah menjadi rawa dan sebagian daratan. Fosil kura-kura, herbivora, gajah jenis stegedon, babi, dan monyet yang ditemukan di lapisan Pucangan-terbentuk sekitar 1,7 juta tahun lalu-menjadi bahan makanan pokok, selain biota rawa dan tumbuhan yang ada di sekitarnya.
Lingkungan alam Sangiran kian mendukung kehidupan manusia purba manakala seluruh wilayah depresi Solo telah menjadi daratan sejak 800.000 tahun lalu. Berbagai jenis tanaman dan hewan diperkirakan tersedia saat itu, terbukti dari penemuan-penemuan dalam lapisan Kabuh. Pada periode ini jenis karnivora dan antilope cukup menonjol, selain hewan lain yang sudah ada pada periode sebelumnya. Penangkapan hewan dilakukan lewat perburuan dengan menggunakan peralatan kayu dan batu. Jika alat-alat batu masih bertahan hingga kini, alat-alat kayu sudah sudah hancur termakan waktu.
Sebuah lembaran baru Sangiran terisi melalui penemuan-penemuan alat batu dalam penelitian dasawarsa terakhir. Jika temuan Koenigswald dan lainnya masih diragukan sebagai peralatan Homo erectus, temuan tim Indonesia-Prancis di Ngebung dan Balai Arkeologi Yogyakarta-Pusat Penelitian Arkeologi di Dayu dan Ngledok, telah menghapuskan keraguan itu. Alat-alat serpih, kapak pembelah, kapak perimbas, bola batu, batu dipecah, dan batu pukul bersama fosil-fosil hewan yang ditemukan dalam lapisan Kabuh, di tepi endapan sungai purba di Ngebung dan alat-alat serpih dalam lapisan grenzbank di Dayu menjelaskan peralatan itu milik Homo erectus yang hidup sekitar 900.000-500.000 tahun lalu. Berkat penemuan ini terbukti, manusia purba Sangiran, seperti manusia purba lain di dunia, telah menggunakan alat-alat batu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut penelitian Sangiran awalnya adalah sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan ”Kubah Sangiran”. Kubah itu kemudian tererosi pada bagian puncaknya sehingga membentuk sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara alamiah. Dari sinilah para ahli mendapatkan informasi yang sangat lengkap tentang kehidupan masa lampau
Sejak tahun 1977 Pemerintah telah menetapkan Sangiran sebagai kawasan cagar budaya melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 070/0/1977, tertanggal 5 Maret 1977.
Komite World Heritage Unesco juga menetapkan Sangiran sebagai The Early Man Site, dengan nomor penetapan World Heritage list C 593.
Museum Sangiran
Di sini juga terdapat sebuah Museum Purbakala Sangiran. Museum ini memiliki kurang lebih 13.086 fosil tetapi yang dipamerkan hanya 2.931, sisanya sebanyak 10.875 lagi masih disimpan di gudang.
Sangiran terkenal sebagai situs purbakala yang paling lengkap di seluruh dunia. Di wilayah ini ditemukan sedikitnya 80 individu manusia purba. Jumlah ini diperkirakan mencapai 50 persen jenis habitat manusia purba di dunia saat itu.
Koleksi akan selalu bertambah, karena setiap musim hujan kawasan Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, peralatan batu yang dulu pernah dibuat, dan digunakan manusia purba yang pernah tinggal di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi dipajang di ruang pameran. Ruang pameran saat ini ada tiga ruang. Ruang utama berisi “vitrin” ditambah diorama, dan ruang pameran.
Data di museum itu sebagian besar pengunjung yang datang adalah wisatawan dari manca negara terutama dari Jepang, Jerman, Belanda, Singapura, Malaysia, Brunei, Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Filipina. Jumlah wisatawan yang datang ke lokasi itu hingga kini mendekati angka 100.000. Pada tahun 2006 pendapatan dari penjualan karcis mencapai Rp 60,7 juta. Angka ini cukup menggembirakan untuk mengukur animo masyarakat terhadap museum ini.
Sangiran bukan hanya surga bagi para arkeologi dunia, melainkan juga para wisatawan. Utamanya wisatawan yang datang ke wilayah ini adalah ingin menyaksikan lokasi purba tempat tinggal manusia zaman dulu.
Dahulunya wilayah Sangiran adalah dasar laut dan rawa-rawa. Dasar laut dan rawa-rawa itu naik ke permukaan karena proses geologis. Wilayah itu pun mengalami erosi sehingga sebagian puncaknya terkikis. Di antara kikisan inilah yang menyimpan fosil-fosil dan artefak budaya manusia purba.
Masyarakat di wilayah itu sangat mafhum dengan fosil-fosil hewan purba seperti stegodon dan elephas sp (gajah purba), bovidae (kerbau sapi) dan sebagainya.
Bahkan di antara lapisan-lapisan itu juga ditemukan kerang dan hewan laut purba.
Sebagian dari hewan-hewan kerang itu dijadikan cendera mata untuk para wisa- tawan yang datang. Kepala Balai pelestarian Situs Sangiran, Harry Widianto menyebutkan hewan kerang dan laut lainnya memang masih diperbolehkan diperjualbelikan, karena jumlahnya masih sangat banyak di lokasi situs Sangiran. Hanya benda-benda artefak hasil budaya manusia dan hewan besar yang harus dilaporkan ke pihaknya jika masyarakat menemukan.
“Ini karena sangat banyaknya fosil yang ada di Sangiran sehingga untuk koleksi hewan laut yang kecil kami sudah kelebihan koleksi. Yang kami fokuskan adalah pada artefak dan hewan-hewan besar dan terutama pencarian fosil manusia purba,” ujarnya.
Bangunan museum Sangiran terletak diatas gundukan tanah, untuk menuju kesana pengunjung harus menaiki jalur trap yang diatur rapi. Museum itu terdiri dari beberapa ruangan yang nampaknya sudah penuh dengan temuan fosil. Terdapat juga ruang laboratorium, gudang dan kantor. Perluasan gedung sedang berlangsung dan tanah disitu telah diperiksa bukan lokasi peninggalan fosil purba. Serombongan pengunjung biasanya dipandu oleh seorang petugas museum yang menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan semua benda temuan purbakala yang berada di setiap ruangan. Pemandu ini layaknya seorang interpreter di Taman Nasional. Gunawan, petugas yang memandu rombongan kami adalah seorang biolog, lulusanUNS.
Memang petugas museum Sangiran ini tuturnya terdiri dari banyak disiplin ilmu. Ada ahli purbakala, atau arkaelog, ahli biologi, geologi, antropologi, dan mungkin juga ahli-ahli lain.
Mereka bergiliran menjadi pemandu dengan koordinasi yang baik. Dalam ruangan laboratorium pengunjung diberi penjelasan tentang cara membersihkan setiap temuan fosil. Peralatan pembersih terdiri dari kuas berbagai ukuran, tatah, pisau, gunting, bahkan gergaji mesin elektronik. Cairan berbagai zat kimia juga dipergunakan. Bahkan pengunjung diberi kesempatan mencoba-coba ikut membersihkan fosil yang masih terbungkus batuan endapan. Setelah temuan fosil bersih baru akan diidentifikasi jenis, sifat, dan struktur untuk diketahui macam fosil tersebut. Bahkan bila terpotong-potong saat ditemukan akan disambung dengan lem perekat.
Menarik sekali adalah cerita ditemukanya gading gajah stegodon sepanjang lima meter. Waktu diketemukan oleh tim purbakala masih terpisah pisah. Setelah bersih, bagian bagian yang terpisah disambung. Kemudian diidentifikasi, dan ternyata adalah fosil gading gajah purba. Demikian cerita salah satu anggauta tim diantaranya bernama Suwarno penduduk setempat. Sekarang pak Suwarno berjualan cindera mata dan memiliki souvenir shop. Banyak rumah penduduk dirubah bentuknya menjadi souvenir shop. Mereka menjual tiruan peralatan manusia purba, ukiran dari aneka rupa jenis batu, manik manik, fosil kayu (petrified wood) dsb.
Lain lagi cerita diketemukanya manusia purba yang termasuk Homo erectus Tipik. Fosil manusia purba ini diketemukan di situs Sangiran 17 oleh penduduk setempat bernama Towikromo pada tahun 1969, di desa Dayu. Fosil Sangiran 17 yang berusia 500.000 tahun merupakan fosil terbaik yang pernah diketemukan di Asia, karena yang paling lengkap dengan bagian mukanya. Semua temuan fosil atau benda purbakala harus diserahkan kepada petugas museum atau kepada Dinas purbakala setempat.Kabarnya penduduk sudah mentaati peraturan tersebut.Namun masih diperlukan adanya pengawasan oleh semua instansi terkait, untuk mencegah perburuan fosil dan dijual sampai ke manca negara. Dengan jarak kurang lebih 5 km sebelah barat bangunan museum terdapat bangunan gedung berlantai tiga yang berfungsi sebagai menara pandang. Dari lantai atas dapat dilihat seputar cekungan Sangiran. Menara pandang ini dilengkapi juga dengan sebuah teropong jauh. Dari sini dapat dilihat alur lapisan lapisan berbagai umur yang banyak mengandung fosil purbakala.
Di lantai bawah gedung ini ada disediakan ruangan audio visual yang berkapasitas 60 tempat duduk. Audio visual mengenai proses evolusi manusia (animasi) dapat ditayangkan atas permintaan dengan bayaran Rp. 40.000,- Waktu tayangan ke layar kurang lebih 25 menit.
Proses evolusi manusia digambarkan mengikuti kaidah survival of the fittest menurut teori evolusi Charles Darwin.
Ciri utama yang membedakan kemajuan evolusi barangkali salah satunya adalah besarnya volume tengkorak. Manusia modern volume tengkorak diatas 1400 cc, sedang yang primitif dibawah 400 cc. Homo erectus berada pada kisaran 800 – 1300 cc. Sementara kera besar (simpase, gorila, orang utan) kurang dari 350 cc.
Masyarakat yang Terlupakan
Indonesia mungkin bangga dengan predikat Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) yang diberikan UNESCO pada 5 Desember 1996. Namun, di balik kebanggaan sejak 12 tahun lalu itu, pemerintah seolah lupa dan seakan lebih peduli dengan potensi fosil manusia purba dibandingkan manusia bernyawa sekitar 175.000 jiwa, yang bermukim di sekitarnya.
Ketika pemerintah mengucurkan dana Rp 25 miliar untuk membangun Museum Fosil Manusia Purba, tanyalah masyarakat, apa yang mereka peroleh?
Sejumlah warga Sangiran mengatakan, mereka hanya pernah mendapatkan pelatihan bagaimana membuat patung-patung kecil manusia purba.
”Warga tak dibolehkan lagi menggarap lahan. Alternatif perekonomian warga dialihkan untuk menjadi perajin, membuat oleh-oleh patung kecil manusia purba,” kata Tuti Martini, warga Desa Krikilian, Sangiran.
Susahnya hidup digambarkan Sutini dengan seringnya berutang. ”Untuk keperluan sekolah anak, saya sampai ngutang. Dan entah kapan bisa melunasinya,” kata Sutini, yang anak tertuanya masuk SMP negeri harus membayar Rp 1.250.000 untuk keperluan seragam, sepatu, tetapi belum termasuk buku-buku.
Warga yang bermukim di sekitar Sangiran berharap, kalaupun mereka tidak boleh menggarap lahan, alangkah baiknya jika mereka boleh menggembalakan kambing, kerbau, atau sapi di sekitar situs. Tentunya hewan ternak tersebut pengadaannya dilakukan pemerintah. ”Tetapi, sudahlah, itu cuma mimpi,” kata Sutini putus asa.
Secara ekonomi, masyarakat di sekitar Sangiran memang belum mendapatkan kompensasi yang seimbang.
Kepala Balai Pelestarian Manusia Purba Sangiran Harry Widiyanto mengatakan, soal ganti rugi lahan warga bukan wewenangnya. Namun, Sangiran harus dilindungi karena mempunyai nilai yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Kawasan ini menyimpan berbagai fosil berusia sekitar dua juta sampai 200.000 tahun yang lalu. Dari kawasan ini juga bisa diungkap proses evolusi manusia purba, budaya, dan lingkungannya.
Yang menjadi persoalan, areal Situs Sangiran yang luasnya 56 kilometer persegi berada di kawasan permukiman. Tak kurang dari 175.000 jiwa bermukim di kawasan itu yang mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar.
Akhmad Johan0 komentar

MUSEUM SANGIRAN (1)

Sragen merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian, Kabupaten Sragen adalah pintu gerbang memasuki Jawa Tengah dari arah timur. Kabupaten Sragen juga sering disebut sebagai “Tlatah Sukowati” yang mempunyai wilayah seluas 941,55 KM 2 , dengan topografi sebagai berikut: di tengah-tengah wilayah mengalir Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa; daerah sebelah selatan merupakan bagian dari lereng Gunung Lawu; sebelah utara merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng; dan sebelah barat merupakan kawasan yang sangat terkenal dengan sebutan “Kubah Sangiran”

Terletak di desa Krikilan,Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo) Sangiran Dome menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu). Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.
Sebagai World Heritage List (Warisan Budaya Dunia). Museum ini memiliki fasilitas-fasilitas diantaranya :ruang pameran (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide dan kios-kios souvenir khas Sangiran.

Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi Daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil Binatang Laut banyak diketemukan di Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

“ Dome Sangiran” atau Kawasan Sangiran yang memiliki luas wilayah sepanjang bentangan dari utara –selatan sepanjang 9 km.
Barat –Timur sepanjang 7 km. Masuk dalam empat kecamatan atau sekitar 59,3 Km2. Temuan Fosil di “Dome Sangiran” di kumpulkan dan disimpan di Museum Sangiran. Temuan Fosil di Sangiran untuk jenis Hominid Purba (diduga sebagai asal evolusi Manusia) ada 50 (Limapuluh) Jenis/Individu. Untuk Fosil-fosil yang diketemukan di Kawasan Sangiran merupakan 50 % dari temuan fosil di Dunia dan merupakan 65 % dari temuan di Indonesia. Oleh Karenanya Dalam sidangnya yang ke 20 Komisi Warisan Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, Sangiran Ditetapkan sebagai salahsatu Warisan Budaya Dunia “World Haritage List” Nomor : 593.

Koleksi Museum Sangiran :
1.Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus , Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens
2.Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

3.Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera

4.Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis

5.Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada para wisatawan, di Kawasan Sangiran telah dibangun Menara Pandang dan Wisma Sangiran. Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar Kawasan Sangiran dari ketinggian lewat Menara Pandang Sangiran. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan akan tempat penginapan yang nyaman di Kawasan Sangiran telah dibangun Wisma Sangiran ( Guest House Sangiran) yang terletak di sebelah Menara Pandang Sangiran. Wisma Sangiran ini berbentuk joglo (rumah adat Jawa Tengah) dengan ornamen-ornamen khas Jawa yang dilengkapi dengan pendopo sebagai lobby . Keberadaan Wisma Sangiran ini sangat menunjang kegiatan yang dilakukan oleh para tamu atau wisatawan khususnya bagi mereka yang melakukan penelitian ( research ) tentang keberadaan fosil di Kawasan Sangiran. Wisma Sangiran memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai, antara lain : Deluxe Room , sebanyak dua kamar dilengkapi dengan double bed , bath tub dan shower , washtafe l, meja rias dan rak ; Standard Room , sebanyak tiga kamar dilengkapi dengan double bed , bak mandi, washtafel , dan meja rias; Ruang Keluarga yang dilengkapi dengan meja dan kursi makan serta kitchen set ; Pendopo ( Lobby ) yang dilengkapi dengan meja dan kursi ; serta tempat parkir. Selain fasilitas-fasilitas tersebut, juga disediakan mobil (mini train ) untuk memudahkan mobilitas para wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Sangiran.

CARA MENCAPAI SANGIRAN
Jalan Darat
• Dari Solo > Kalijambe > Sangiran ( ± 20 km ke arah utara)
• Dari Semarang > Purwodadi > Kalijambe â Sangiran
• Dari Surabaya > Sragen > Kalijambe â Sangiran
• Dari Yogyakarta > Solo > Kalijambe â Sangiran
Situs Sangiran merupakan tempat yang tempat untuk melakukan perjalanan kembali ke masa pra sejarah. Banyak hal yang bisa dipelajari di situs ini, antara lain tentang kehidupan di masa lalu dan tentang misteri evolusi makhluk hidup yang sangat menarik untuk diungkap. Semoga penjelasan ini bisa memberikan gambaran bagi para pembaca bahwa ada dunia menakjubkan di balik Situs Sangiran. Pengetahuan ini perlu disebarluaskan kepada para generasi penerus supaya mereka ikut melestarikan warisan dunia yang menakjubkan ini.
Informasi tersebut akan terasa lebih lengkap lagi apabila disertai dengan kunjungan langsung ke Museum Sangiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar